Tahukah Anda? Kelelahan Bukan Selalu Karena Kurang Tenaga, Tetapi Karena Salah Bernapas

Pembuka

Ada seorang bapak yang setiap sore berjalan kaki mengelilingi kampung.

Usianya sudah lebih dari enam puluh tahun. Rambutnya memutih. Langkahnya tidak cepat. Bahkan cenderung pelan.

Anehnya, ia jarang terlihat kelelahan.

Sementara itu, ada anak muda yang baru menaiki tangga beberapa lantai sudah terengah-engah.

Kalau dilihat sekilas, tentu orang akan menyimpulkan bahwa yang muda kurang olahraga.

Mungkin benar.

Tetapi belum tentu itu penyebab utamanya.

Banyak orang mengira kelelahan selalu terjadi karena tubuh kekurangan tenaga. Padahal sering kali tubuh masih memiliki energi yang cukup. Yang bermasalah justru cara kita bernapas.


Pengetahuan yang Jarang Diketahui

Dalam berbagai tradisi seni pernapasan Nusantara, seorang murid sering kali diajarkan mengatur napas sebelum diajarkan gerakan yang rumit.

Bukan tanpa alasan.

Para leluhur memahami bahwa tenaga manusia bukan hanya soal otot, tetapi juga soal bagaimana tubuh mendapatkan dan menggunakan oksigen.

Bayangkan api yang besar.

Jika aliran udaranya cukup, api akan menyala dengan stabil.

Tetapi jika udaranya terganggu, api akan cepat redup meskipun kayunya masih banyak.

Tubuh manusia kurang lebih bekerja dengan cara yang sama.

Saat bernapas terlalu pendek, terlalu cepat, atau hanya menggunakan bagian atas dada, pasokan oksigen menjadi kurang optimal. Tubuh harus bekerja lebih keras untuk melakukan pekerjaan yang sama.

Akibatnya, seseorang lebih cepat merasa lelah.

Leluhur Jawa memiliki pitutur:

“Sapa ngatur napase, bakal ngatur tenagane.”

Siapa yang mampu mengatur napasnya, akan mampu mengatur tenaganya.

Hari ini ilmu pengetahuan modern menjelaskan bahwa pernapasan yang baik membantu distribusi oksigen ke seluruh tubuh dengan lebih efisien. Jantung tidak perlu bekerja terlalu keras. Otot pun dapat bekerja lebih lama sebelum mengalami kelelahan.

Mungkin para leluhur tidak mengenal istilah fisiologi atau metabolisme. Namun mereka mengenali tanda-tandanya melalui latihan dan pengalaman hidup.


Tahukah Anda?

Saat seseorang sedang cemas atau terburu-buru, napasnya cenderung menjadi pendek dan cepat.

Tubuh menganggap dirinya sedang menghadapi ancaman.

Akibatnya, energi terkuras lebih banyak meskipun aktivitas yang dilakukan sebenarnya tidak terlalu berat.

Inilah sebabnya mengapa orang yang banyak pikiran sering merasa lelah, meskipun seharian hanya duduk.


Pelajaran untuk Kehidupan

Menariknya, kelelahan tidak selalu berasal dari pekerjaan yang berat.

Kadang yang membuat kita lelah adalah cara kita menjalani pekerjaan itu.

Tergesa-gesa.

Tegang.

Khawatir.

Pikiran berlari ke mana-mana.

Napas menjadi pendek.

Tubuh ikut tegang.

Energi habis sebelum pekerjaan selesai.

Para pesilat zaman dahulu memahami bahwa kekuatan bukan sekadar soal mengeluarkan tenaga sebanyak-banyaknya.

Kekuatan adalah kemampuan menggunakan tenaga secara hemat dan tepat.

Mereka belajar bergerak seirama dengan napas.

Mereka belajar kapan harus mengencang dan kapan harus mengendur.

Karena itulah banyak pendekar mampu berlatih dalam waktu lama tanpa terlihat kehabisan tenaga.

Bukan karena mereka memiliki energi tanpa batas.

Melainkan karena mereka tidak membuang-buang energi yang dimiliki.


Renungan

Ada sebuah sanepo Jawa yang berbunyi:

“Urip iku kaya ambegan.”

Hidup itu seperti bernapas.

Ada saatnya menarik.

Ada saatnya melepaskan.

Tidak bisa terus mengambil tanpa memberi ruang untuk melepaskan.

Mungkin pelajaran ini bukan hanya tentang seni pernapasan atau pencak silat.

Mungkin ini juga tentang kehidupan.

Bahwa sebelum mencari tenaga yang lebih besar, kita perlu belajar menggunakan tenaga yang sudah ada dengan lebih bijaksana.

Dan bisa jadi, kelelahan yang selama ini kita rasakan bukan karena hidup terlalu berat.

Melainkan karena kita lupa memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas dengan benar.

Leave a comment